A.SEJARAH DESA
Dahulu, konon cerita ada seorang perempuan yang di utus oleh Ki Pandanaran untuk memimpin wilayah di Gedawang. Nama perempuan itu adalah Nyi Sarinem dan lebih terkenal dengan Gianti Puro, dimungkinkan nama tersebut adalah nama seorang keturunan Adipati. Gianti Puro adalah seorang gadis dan dinikah oleh Ki Blendang. Pada zaman dahulu juga daerah Gedawang mendapat pengaruh dari Kerajaan Demak yang dibawa oleh Empu Supo. Maka dari itu sampai sekarang meskipun berbeda logat dengan Demak secara keseluruhan tetapi nuansa Demak masih sangat terasa ada di tengah-tengah masyarakat Gedawang.
Dahulu mayoritas wilayah Gedawang adalah sebuah hutan jati dan oleh orang setempat menyebutnya “Alas Jaten”. Kampung yang pertama kali ada di Gedawang adalah Bendeng Sari dahulu pernah ada cerita tentang Empu Supo yang setiap kali membawa binatang peliharaannnya yaitu kerbau selalu hilang saat melewati Alas Jaten tersebut. Setiap kali dicari berkeliling saerah tersebut ternyata yang dijumpai adalah mayat. Setelah kejadian semacam itu terjadi berulang-ulang maka untuk kesekian kalinya mayat yang ditemukan oleh Empu Supo tersebut dimakamkan dan setelah dimakamkan kejadian seperti itu tidak pernah dialami kembali oleh Empu Supo. Dan Rojo Brono atau harta benda yang dahulu sering hilang akhirnya ditemukan kembali.
Ada tiga tokoh yang sangat berpengaruh di Kelurahan Gedawang dalam menyebarkan syiar keagamaan, diantaranya adalah
1.Pangeran Suryo Negoro (telah dimakamkan di Makam Kecil)
2.Empu Supo (makamnya ada di Kelurahan Gedawang)
3.Kyai Kramat (makamnya ada di Makam Kyai Kramat)
Nama Gedawang itu sendiri diilhami dari cerita tersebut diatas, kenapa Gedawang? Karena Gianti Puro tersebut menerima Dawuh dari Ki Pandanaran untuk memimpin wilayah ini, sehingga oleh masyarakat wilayah ini dinamakan Gedawuhan dan disempurnakan menjadi Gedawang.
Lepas dari sudut pandang sejarah awal mula kelurahan Gedawang, jika dilihat dari perkembangan sebelum tahun 1993 kelurahan gedawang termasuk dalam wilayah kecamatan semarang dan berstatus sebagai desa yang terbagi dalam dua dukuh yaitu dukuh Gedawangkrajan dan dukuh Gedawangdukuh.
Adanya pemekaran wilayah Kota Semarang dari 9 kecamatan, menjadi 16 kecamatan pada tahun 1993 membawa pengaruh perubahan status Gedawang menjadi Kelurahan dan mendapat tambahan wilayah, yaitu kampung Tejosari yang tadinya merupakan wilayah Kelurahan Padangsari. Dalam pemekaran kota ini, kelurahan Gedawang masuk dalam wilayah kecamatan Banyumanik.
Pada tahun 1998 Kelurahan Gedawang terbagi menjadi 5 RW yang merupakan hasil dari pecahan sebelumnya, yaitu RW I terpecah menjadi RW I dan RW III, sedangkan RW II terpeah menjadi RW II, RW IV, dan RW V.
Dalam perkembangan waktu, Kelurahan Gedawang terbagi menjadi 6 RW seperti sekarang yaitu RW VI yang merupakan pecahan dari RW V.
B.KONDISI GEOGRAFIS
1.Letak
Kelurahan Gedawang merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Banyumanik yang terletak di bagian selatan Kecamatan Banyumanik. Letaknya antara 07°04’30”LS - 07°06’22”LS dan 110°25’15”BT - 110°26’23”BT. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 2 km dan dari utara ke selatan 2,2 km.
Adapun batas-batas administratif adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Padangsari
Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang
Sebelah Timur : Kelurahan Jabungan
Sebelah Barat : Kelurahan Banyumanik dan Kelurahan Pudak Payung
Orbitasi atau jarak dari pusat pemerintahan yaitu :
Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan : ± 5 km
Jarak dari pusat pemerintahan Kota : ± 17 km
Jarak dari pusat pemerintahan Provinsi : ± 15 km
Jarak dari pusat pemerintahan Negara : ± 500 km
Dahulu, konon cerita ada seorang perempuan yang di utus oleh Ki Pandanaran untuk memimpin wilayah di Gedawang. Nama perempuan itu adalah Nyi Sarinem dan lebih terkenal dengan Gianti Puro, dimungkinkan nama tersebut adalah nama seorang keturunan Adipati. Gianti Puro adalah seorang gadis dan dinikah oleh Ki Blendang. Pada zaman dahulu juga daerah Gedawang mendapat pengaruh dari Kerajaan Demak yang dibawa oleh Empu Supo. Maka dari itu sampai sekarang meskipun berbeda logat dengan Demak secara keseluruhan tetapi nuansa Demak masih sangat terasa ada di tengah-tengah masyarakat Gedawang.
Dahulu mayoritas wilayah Gedawang adalah sebuah hutan jati dan oleh orang setempat menyebutnya “Alas Jaten”. Kampung yang pertama kali ada di Gedawang adalah Bendeng Sari dahulu pernah ada cerita tentang Empu Supo yang setiap kali membawa binatang peliharaannnya yaitu kerbau selalu hilang saat melewati Alas Jaten tersebut. Setiap kali dicari berkeliling saerah tersebut ternyata yang dijumpai adalah mayat. Setelah kejadian semacam itu terjadi berulang-ulang maka untuk kesekian kalinya mayat yang ditemukan oleh Empu Supo tersebut dimakamkan dan setelah dimakamkan kejadian seperti itu tidak pernah dialami kembali oleh Empu Supo. Dan Rojo Brono atau harta benda yang dahulu sering hilang akhirnya ditemukan kembali.
Ada tiga tokoh yang sangat berpengaruh di Kelurahan Gedawang dalam menyebarkan syiar keagamaan, diantaranya adalah
1.Pangeran Suryo Negoro (telah dimakamkan di Makam Kecil)
2.Empu Supo (makamnya ada di Kelurahan Gedawang)
3.Kyai Kramat (makamnya ada di Makam Kyai Kramat)
Nama Gedawang itu sendiri diilhami dari cerita tersebut diatas, kenapa Gedawang? Karena Gianti Puro tersebut menerima Dawuh dari Ki Pandanaran untuk memimpin wilayah ini, sehingga oleh masyarakat wilayah ini dinamakan Gedawuhan dan disempurnakan menjadi Gedawang.
Lepas dari sudut pandang sejarah awal mula kelurahan Gedawang, jika dilihat dari perkembangan sebelum tahun 1993 kelurahan gedawang termasuk dalam wilayah kecamatan semarang dan berstatus sebagai desa yang terbagi dalam dua dukuh yaitu dukuh Gedawangkrajan dan dukuh Gedawangdukuh.
Adanya pemekaran wilayah Kota Semarang dari 9 kecamatan, menjadi 16 kecamatan pada tahun 1993 membawa pengaruh perubahan status Gedawang menjadi Kelurahan dan mendapat tambahan wilayah, yaitu kampung Tejosari yang tadinya merupakan wilayah Kelurahan Padangsari. Dalam pemekaran kota ini, kelurahan Gedawang masuk dalam wilayah kecamatan Banyumanik.
Pada tahun 1998 Kelurahan Gedawang terbagi menjadi 5 RW yang merupakan hasil dari pecahan sebelumnya, yaitu RW I terpecah menjadi RW I dan RW III, sedangkan RW II terpeah menjadi RW II, RW IV, dan RW V.
Dalam perkembangan waktu, Kelurahan Gedawang terbagi menjadi 6 RW seperti sekarang yaitu RW VI yang merupakan pecahan dari RW V.
B.KONDISI GEOGRAFIS
1.Letak
Kelurahan Gedawang merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Banyumanik yang terletak di bagian selatan Kecamatan Banyumanik. Letaknya antara 07°04’30”LS - 07°06’22”LS dan 110°25’15”BT - 110°26’23”BT. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 2 km dan dari utara ke selatan 2,2 km.
Adapun batas-batas administratif adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Padangsari
Sebelah Selatan : Kabupaten Semarang
Sebelah Timur : Kelurahan Jabungan
Sebelah Barat : Kelurahan Banyumanik dan Kelurahan Pudak Payung
Orbitasi atau jarak dari pusat pemerintahan yaitu :
Jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan : ± 5 km
Jarak dari pusat pemerintahan Kota : ± 17 km
Jarak dari pusat pemerintahan Provinsi : ± 15 km
Jarak dari pusat pemerintahan Negara : ± 500 km
2.Luas Wilayah
Kelurahan gedawang mempunyai luas wilayah sebesar 2.990.942 m2 atau 299,0942 Ha atau sekitar 10,5 persen dari Kecamatan Banyumanik. Luas yang ada, terdiri atas 83,2294 hektar (28 persen) lahan terbangun dan 215,8684 hektar (72 persen) lahan non terbangun.
3.Ketinggian tanah dari permukaan air laut : 297,40 m
4.Banyaknya curah Hujan : 2.247 mm/tahun
5.Topografi (dataran rendah, tinggi, pantai) : landai, agak curam, curam, ekstrim curam.
6.Suhu udara rata-rata : 22-26 °C
C.DEMOGRAFI
Kelurahan Gedawang termasuk dalam BWK VII yang berfungsi sebagai kawasan permukiman, perdagangan, dan jasa. Kelurahan Gedawang merupakn daerah yang dimanfaatkan sebagai lokasi pemekaran kota Semarang atas. Banyak perumahan-perumahan baru yang dibangun sebagai tempat tinggal penduduk pendatang. Benyaknya penduduk pendatang ini memberikan suatu fenomena kependudukan yang menarik untuk dikaji.
1.Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Kelurahan Gedawang dengan luas wilayah 290,942 Ha dan terdiri atas 6 RW memiliki jumlah penduduk sebesar 4956 jiwa, jumlah penduduk laki-laki sebesar 2096 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan sebesar 2107 jiwa. Di Kelurahan Gedawang kepadatan tinggi berada di RW VI yaitu 1170 per 10.000 m2 sedangkan yang paling rendah RW III yaitu 57 orang per 10.000 m2.
2.Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Jumlah kelahiran, kematian, dan migrasi dapat dilihat pada table berikut. Kelurahan Gedawang merupakan daerah yang potensial dikembangkan sebagai kawasan permukiman dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang ada. Hal ini terlihat dengan banyaknya perumahan dengan berbagai tipe yang dibangun. Jumlah mutasi yang paling banyak adalah pendatang atau imigrasi sebanyak 286 jiwa.
Sumber : Profil Kelurahan Gedawang, 2008
5.Topografi (dataran rendah, tinggi, pantai) : landai, agak curam, curam, ekstrim curam.
6.Suhu udara rata-rata : 22-26 °C
C.DEMOGRAFI
Kelurahan Gedawang termasuk dalam BWK VII yang berfungsi sebagai kawasan permukiman, perdagangan, dan jasa. Kelurahan Gedawang merupakn daerah yang dimanfaatkan sebagai lokasi pemekaran kota Semarang atas. Banyak perumahan-perumahan baru yang dibangun sebagai tempat tinggal penduduk pendatang. Benyaknya penduduk pendatang ini memberikan suatu fenomena kependudukan yang menarik untuk dikaji.
1.Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Kelurahan Gedawang dengan luas wilayah 290,942 Ha dan terdiri atas 6 RW memiliki jumlah penduduk sebesar 4956 jiwa, jumlah penduduk laki-laki sebesar 2096 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan sebesar 2107 jiwa. Di Kelurahan Gedawang kepadatan tinggi berada di RW VI yaitu 1170 per 10.000 m2 sedangkan yang paling rendah RW III yaitu 57 orang per 10.000 m2.
2.Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Jumlah kelahiran, kematian, dan migrasi dapat dilihat pada table berikut. Kelurahan Gedawang merupakan daerah yang potensial dikembangkan sebagai kawasan permukiman dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang ada. Hal ini terlihat dengan banyaknya perumahan dengan berbagai tipe yang dibangun. Jumlah mutasi yang paling banyak adalah pendatang atau imigrasi sebanyak 286 jiwa.
Sumber : Profil Kelurahan Gedawang, 2008
0 komentar:
Posting Komentar